Bait-bait Mu'jizat

Thursday, November 19, 2009

Menimbang Mantik: Antara Al Ghazali dan Ibn Taymiah

Menimbang Mantik:

Antara Al Ghazali dan Ibn Taymiah

Umar M. Noor

Abstract

Mantiq or Logics became polemic in history of Islamic intellectual. Two prominent figures in Mantiq debate were al-Ghazaly and ibn-Taymiya: the first as defender of Mantiq, while the second was trying to reject it. Both are have reasonable arguments. This article tries to describe briefly the debate history. Al-Ghazaly argues that Mantiq is to authorize ones knowledge; no knowledge without Mantiq. Meanwhile, ibn Taymiya argues that syllogisms gave nothing but confusing and difficulties.

Keywords: Mantiq, history of Mantiq, kind of Mantiq, jauhar, tashawwur, tashdiq, had, ta’rif, musallamah, nazhariah, syllogism, burhan, khithabi, jadali, syi’ri, sufusthah, critic on Mantiq

Menuju keharusan ijtihad guna mengiringi gerak zaman memaksa kita untuk mengkaji semua perangkat yang mendukung sahnya sebuah ijtihad. Sebab ijtihad, yang disebut ahli ushul sebagai pengerahan segenap upaya (bazlul majhud) untuk menyimpulkan hukum syara’ dari sumber-sumber aslinya, bukan perkara mudah. Paling tidak, upaya ini memaksa kita untuk mengkaji ulang furu’ dan ushul fiqih kita, bahkan pola pikir yang mendasari produk pemikiran ini. Salah satunya adalah pembahasan tentang mantik sebagai aturan-aturan berpikir yang, diakui atau tidak, berpengaruh sangat besar dalam proses penyimpulan hukum. Berikut ini diskusi antar generasi yang terpisahkan jarak ratusan tahun, dengan Al Ghazali dan Ibn Taymiah sebagai aktor pelakunya.

Mantik: Hakikat dan Sejarahnya

Salah satu perbedaan manusia dari binatang adalah kemampuannya untuk mengabstraksi sesuatu. Yakni, ketika inderanya mencerap suatu benda, akal bekerja melepaskan benda itu dari sifat-sifat material, lalu membandingkannya dengan benda-benda lain yang serupa dengannya dan memproduksi sebuah konsep bersama. Akal terus menerus mengabstraksi hingga mencapai sebuah konsepsi universal paling abstrak (basith) yang mewadahi semua wujud. Ketika ia melihat manusia, misalnya, imajinasinya mengabstraksi benda itu menjadi sebuah spiecies (nau’) yang menaungi semua manusia yang lain. Ia kemudian membandingkan konsep ini dengan konsep binatang, lalu mengabstraksinya menjadi sebuah genus (jenis) yang menaungi keduanya. Proses abstraksi ini berlanjut ketika ia membandingkannya dengan konsep tumbuhan, demikian seterusnya hingga mencapai genus tertinggi yang disebut substansi (jauhar). Pada saat itu, akal berhenti mengabstraksi.[1]

Ahli mantik berkata bahwa pengetahuan yang dicapai manusia hanya dua macam, yakni tashawwur (pengetahuan konseptual), tanpa menetapkan hukum apa-apa atasnya, dan tashdiq (pengetahuan relasional) antara dua hal dengan menetapkan penilaian benar atau salah. Atas dasar ini, aktifitas berpikir manusia hanyalah menyusun satu persatu konsepsi universal (kulliyyat) di otaknya untuk menghasilkan konsepsi universal baru yang sesuai dengan realitas, atau menilai sesuatu dengan sesuatu lainnya. Aktifitas berpikir ini bisa keliru dan bisa juga benar. Maka dibutuhkan sebuah aturan-aturan berpikir tertentu untuk menjaga akal dari kekeliruan berpikir. Dan kumpulan aturan-aturan berpikir itu disebut mantik (logika).

Sebenarnya, Aristoteles bukan orang pertama yang menyusun aturan-aturan berpikir ini, sebab sebelumnya Socrates dan Plato pernah berbicara tentang hal ini. Namun karena Aristoteles adalah orang pertama yang mengumpulkan dan menyusunnya, menetapkannya sebagai kunci ilmu pengetahuan serta menulisnya dalam sebuah karya, ia digelari sebagai “guru pertama”. Organon, bukunya tentang mantik, terdiri dari delapan bagian: Categoria (membahas tentang genus dan bagian-bagiannya), Hermeneutika (tentang proposisi), Sylogisme (tentang qiyas), Demonstrasi (tentang qiyas yang menyimpulkan keyakinan), Dialektika (ilmu debat), Sofistika (qiyas yang menyesatkan), Retorika (seni agitasi massa) dan Poetica (seni menyusun kata-kata puitis).[2]

Pada masa penerjemahan literatur asing atas perintah Khalifah Al Makmun (w. 218 H), buku-buku ini menarik perhatian banyak cendikiawan muslim pada saat itu hingga beberapa dekade setelahnya. Abu Nashr Al Farabi, Abu Ali Ibn Sina dan Ibn Rusyd menulis berbagai komentar dan penjelasan tentang cabang ilmu ini. Kemudian datang generasi selanjutnya yang menyempurnakan ilmu ini dengan memandangnya sebagai ilmu tersendiri, bukan hanya ilmu alat (organon), dengan menambah yang kurang dan membuang yang tidak perlu. Orang pertama yang melakukan ini adalah Imam Fajruddin bin Al Khatib lalu Afdhaluddin Khawanji. Proyek mereka sungguh sukses sehingga berhasil menenggelamkan karya tokoh-tokoh sebelumnya dan mengalahkan metode mereka.[3]

Al Ghazali dan Mantik

Sejak awal kehadirannya di dunia Islam, mantik menyalakan perdebatan sengit di kalangan para ulama, terutama ahli kalam. Mereka sangat anti kepada mantik dan melarang manusia untuk mempelajarinya. Ibn Khaldun berkata bahwa antipati ini lahir karena persinggungan prinsip ilmu kalam dengan mantik yang melahirkan pilihan: terima mantik maka tinggalkan kalam atau terima kalam maka tinggalkan mantik. Padahal, ilmu kalam adalah ilmu dasar yang bertugas menetapkan akidah islamiah menyangkut keesaan Allah dan kebaharuan alam semesta. Bahkan Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani menyatakan bahwa prinsip-prinsip ilmu kalam adalah bagian dari akidah. Menyerangnya sama dengan berusaha menghancurkan sendi-sendi akidah islamiah.[4]

Kemudian datang Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali (w. 505 H) yang mendamaikan keduanya. Kharisma dan argumentasinya berhasil mengakhiri perdebatan ini dan membuat ilmu mantik diterima di kalangan sunni. Meski terkenal sebagai musuh besar filsafat, bahkan berhasil membuatnya pingsan dengan Tahafut ul Falasifah-nya, Al Ghazali sangat menyayang anak kandung filsafat ini. Ia menulis beberapa karya tentangnya, antara lain Mi’yar ul-‘Ilm, Al Mankhul, Mihak un-Nazhar, beberapa lembar di mukaddimah Al Mustashfa dan secara tersirat dalam dialog dengan seorang penganut Syiah Ismailiah di Al Qisthas ul-Mustaqim. Berikut sedikit ringkasan tentang mantik ala Al Ghazali yang bisa penulis tampilkan pada kesempatan kali ini.

Seperti Al Farabi dan Ibn Sina, Al Ghazali berpendapat bahwa mantik adalah aturan-aturan berpikir yang berfungsi meluruskan akal dalam menarik kesimpulan dan membebaskannya dari campuran prasangka dan imajinasi. Tugas utama mantik dengan demikian adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir. Mantik bagi akal sepadan dengan posisi nahwu bagi bahasa Arab dan ilmu ‘Arud bagi ritme puisi (syair). Meminjam analogi Al Farabi, mantik bagi akal ibarat neraca dan takaran yang berfungsi mengukur bobot benda yang tak bisa diketahui ukurannya dengan tepat jika hanya menggunakan indera. Atau ibarat penggaris untuk mengukur panjang dan lebar sesuatu yang indera manusia sering keliru dalam memastikannya.[5]

Al Ghazali bahkan menegaskan bahwa mantik merupakan mukaddimah (organon) seluruh ilmu --bukan hanya pengantar filsafat. Maka barangsiapa yang tidak menguasai mantik, seluruh pengetahuannya rusak dan diragukan.[6]

Sebagaimana telah dijelaskan di muka, pengetahuan manusia terbagi dua, yaitu tashawur dan tashdiq. Pengetahuan tashawur terbagi dua: pertama, pengetahuan yang telah ada di otak manusia sejak awal (a priori) sehingga pengetahuan tentangnya tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar. Contoh, pengetahuan tentang makna ‘ada’, ‘banyak’ dan beberapa benda-benda inderawi lainnya. Kedua, pengetahuan tentang konsep-konsep samar yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Untuk yang kedua ini diperlukan sebuah definisi (had/ta’rif) yang memperjelas makna kata tersebut. Sementara itu, pengetahuan tashdiq juga terbagi menjadi dua: relasi aksiomatik (musallamah) yang kebenarannya tidak perlu pembuktian dan relasi hipotetik (nazhariah) yang harus dibuktikan kebenarannya. Alat pembuktian itu disebut demonstrasi (sylogisme). Dengan demikian, pokok bahasan mantik tersimpul pada empat komponen, yaitu pembahasan tentang tashawwur, had (definisi), tashdiq dan sylogisme. Di atas kita telah membahas tentang makna tashawwur dan tashdiq, maka pembahasan berikutnya adalah tentang had dan sylogisme.[7]

1. Definisi (Had)

Ahli mantik sepakat bahwa definisi menghasilkan pengetahuan hakikat sesuatu dan tanpanya pengetahuan tashawwur tidak bisa didapatkan[8]. Untuk membuat sebuah definisi sempurna, harus diperhatikan beberapa aturan (qanun) penting berikut ini. Aturan pertama, definisi adalah jawaban untuk sebuah pertanyaan. Karena bentuk pertanyaan yang dilontarkan bermacam-macam, maka jawabannya pun bermacam-macam pula, sehingga mempengaruhi bentuk definisi. Memahami bentuk pertanyaan dengan demikian menentukan kualitas sebuah jawaban, maka pembahasan tentang bentuk-bentuk pertanyaan harus dikuasai terlebih dahulu. Pertanyaan ‘apa’ menuntut tiga hal: penjelasan kata (apa itu reformasi? Reformasi adalah pembentukan kembali), penjelasan tentang uraian sesuatu yang membedakannya dengan sesuatu yang lain dengan ciri-ciri lazimnya (apa itu khamr? Khamr adalah benda cair yang berbusa), dan penjelasan hakikat serta essensi sesuatu (apa itu khamr? Khamr adalah minuman memabukkan yang dibuat dari perasan anggur). Definisi pertama disebut definisi lafzhi, sebab hanya menjelaskan makna kata. Kedua disebut rasmi, sebab hanya menjelaskan ciri eksternal (rasm) sesuatu, bukan hakikatnya. Dan yang ketiga disebut definisi hakiki, sebab ia menjelaskan hakikat dan essensi sesuatu dengan mendalam. Pertanyaan ‘mengapa’ menuntut pembuktian dengan sylogisme yang akan dijelaskan nanti. Dan pertanyaan ‘yang mana’ meminta pemilahan antara dua hal yang hampir serupa. Pertanyaan dengan ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’ dan bentuk-bentuk lain termasuk dalam penjelasan dari pertanyaan ‘apakah’ yakni menuntut penjelasan tentang sifat sesuatu.[9]

Aturan kedua, seorang pembuat definisi harus bisa membedakan antara sifat essensial (dzati), aksidental (‘aridh) dan lazim dari sesuatu.[10] Sifat essensial (dzati) adalah sifat yang masuk dalam essensi dan hakikat sesuatu, tidak mungkin sesuatu itu dipahami tanpa menyertakan sifat ini. Contoh sifat essensial adalah makna ‘warna’ yang dipahami dari kata ‘hitam’, dan makna ‘benda’ dari kata ‘pohon’, misalnya. Sifat lazim adalah sifat yang selalu menyertai benda namun pemahaman hakikat benda itu tidak tergantung padanya. Seperti bayangan yang menyertai fostur manusia ketika matahari terbit. Memahami hakikat manusia bisa dilakukan tanpa menyertai kata bayangan sedikitpun. Sifat aksidental (‘aridh) adalah sifat yang harus menyertai benda namun bisa hilang cepat atau lambat.

Untuk menyusun sebuah definisi yang logis, diperlukan sifat essensial untuk menjelaskan hakikat sesuatu. Sifat essensial terbagi menjadi umum, selanjutnya disebut genus (jins), dan khusus, selanjutnya disebut spesies (nau’). Makhluk adalah genus untuk kata manusia, binatang dan tumbuhan. Selanjutnya, manusia adalah genus untuk kata Usman, Fatimah dan lain-lain.

Aturan ketiga, dalam membuat definisi logis, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah memasukkan semua komponen definisi, yakni genus dan differensia (fashal). Contoh, manusia adalah hewan (genus) yang berpikir (differensia). Kedua, Anda harus inventaris sifat-sifat essensial dari obyek yang hendak didefinisikan. Ketiga, jika Anda menemukan genus yang dekat, jangan pilih yang lebih jauh. Contoh, genus terdekat untuk khamar adalah minuman, maka jangan pilih kata benda cair untuk mendefinisikannya. Keempat, hindari sebisa mungkin kata-kata samar dan kiasan.

Singkatnya, sebuah definisi yang baik harus terbuka-tertutup (muththarid wa mun’akis), yakni terbuka untuk semua entitas dari sesuatu yang hendak didefinisikan (kulli fardin min afrad al mu’arraf) dan tertutup untuk selain entitas-entitas itu.

2. Sylogisme

Ahli mantik sepakat bahwa sylogisme adalah satu-satunya jalan mencapai pengetahuan tashdiq dan melahirkan pengetahuan meyakinkan. Sylogisme adalah beberapa proposisi yang disusun sedemikian rupa dengan syarat-syarat tertentu sehingga melahirkan kesimpulan (natijah) yang dicari. Proposisi ini disebut premis (muqaddimah), ysng terbagi dua menjadi mayor (muqaddimah kubra) dan minor (muqaddimah shughra). Sylogisme yang baik adalah yang tersusun dari premis-premis sahih dan meyakinkan, serta disusun dengan cara yang benar. Ibarat membangun sebuah rumah, yang harus diperhatikan pertama kali adalah bahan material (batu, semen dan kayu) yang membentuk rumah itu, kemudian cara pembuatannya dan terakhir bentuk rumah tersebut. Begitu juga dalam membangun sebuah sylogisme, yang harus diperhatikan pertama kali adalah kata dan makna yang menjadi materi premis, kemudian cara penyusunan premis-premis yang sah, lalu bentuk sylogisme yang dapat menghasilkan kesimpulan.[11] Maka pembahasan sylogisme ini akan dimulai dengan pembahasan tentang makna dan kata, dilanjutkan dengan pembahasan tentang cara penyusunan premis dan terakhir pembahasan tentang bentuk-bentuk sylogisme.

a. Makna dan Kata

Penunjukan kata untuk makna terjadi dalam tiga bentuk: muthabaqah, tadhdmmun dan iltizam. Kata rumah disebut muthabaqah jika merefers kepada makna rumah secara konvensional. Disebut tadhammun jika kata tersebut merefers kepada atap saja, misalnya. Dan relasi sebuah kata dengan makna disebut iltizam jika kata tersebut merefers kepada hal yang diluar pengertian kata itu namun sesuatu yang selalu mengiringinya. Seperti menyebut kata atap untuk menunjuk tembok.

Relasi kata dan makna yang lain adalah sebuah kata disebut mu’ayyan jika hanya merujuk kepada satu obyek tertentu, namun jika merujuk kepada banyak obyek disebut mutlaq. Contoh mu’ayyan, kata Zaid, Ahmad dan lain-lain. Contoh mutlaq, kata manusia, pohon dan seterusnya.

Pembagian kata yang lain adalah mutaradifah, mutabayinah, mutawathiah dan musytarakah. Hubungan antara kata “bisa” dan “racun” disebut mutaradifah (sinonim). Hubungan antara kata “singa”, “langit”, “kunci” disebut mutabayinah (tak ada kesamaan). Hubungan antara kata “Zaid”, “Ahmad”, “Hasan” dengan kata laki-laki disebut mutawathiah (hiponimi). Hubungan antara kata “bisa” yang berarti racun dan kata “bisa” yang berarti mampu disebut musytarakah (homonim).[12]

b. Proposisi

Penyusunan dua makna yang melahirkan justifikasi benar-salah disebut proposisi (qadhiyah). Proposisi terbagi empat: ta’yin (contoh, Zaid seorang sekretaris), umum (contoh, setiap benda pasti berbobot), khusus (contoh, sebagian manusia berilmu) dan muhmal (contoh, manusia dalam kerugian).[13]

c. Kontradiksi

Suatu proposisi kadang dengan mudah disimpulkan kebenarannya hanya dengan melihat kelirunya proposisi yang menjadi lawannya. Contoh, alam ini kekal atau alam ini tidak kekal. Jika proposisi yang pertama benar, maka yang kedua salah, demikian sebaliknya. Syarat sahnya kontradiksi ada enam, yaitu satu dalam subyek, satu dalam predikat, satu dalam relasi (idhafah), satu dalam potensi dan aktual, satu dalam universal dan partikular, satu dalam tempat dan waktu.[14]

d. Macam-macam Qiyas (Sylogisme)

Ahli mantik berkata bahwa dalil yang menghasilkan pengetahuan hanya tiga, yaitu deduksi, induksi dan penyerupaan (tamtsili). Sebab pembuktian hanya bisa dilakukan dengan pembuktian universal atas particular (kulli ‘ala juz’i), partikular atas universal (juz’i ‘ala kulli) dan partikular atas particular (juz’i ‘ala juz’i). Yang pertama disebut deduksi (menempati peringkat pertama dalam pembuktian). Yang kedua disebut induksi (menempati peringkat kedua). Dan yang ketiga disebut penyerupaan (menempati peringkat terendah).

Qiyas penyerupaan adalah perpindahan dari satu particular ke particular lain yang memiliki keserupaan dalam sifat dengannya. Qiyas ini sering digunakan para fuqaha dalam menyimpulkan hukum syar’i atas sesuatu. Jika seseorang bertanya, “Apa itu roti,” lalu diperlihatkan kepadanya sebuah roti, maka selanjutnya ia akan menyebut roti untuk sesuatu yang serupa dengan yang ia lihat itu, meski bentuk dan warnanya berbeda.

Induksi terbagi dua: jika bagian-bagiannya (al afrad) terbatas sehingga bisa diteliti semuanya maka induksi ini sempurna dan melahirkan pengetahuan meyakinkan. Namun jika bagian-bagiannya tak terbatas sehingga hanya menetapkan hukum atas sebagian besarnya, maka disebut induksi tidak sempurna dan tidak menghasilkan keyakinan (zhan).

Terakhir deduksi, jika premis-premisnya terdiri dari materi meyakinkan dengan bersandarkan kepada dalil-dalil aksiomatik (yaitu inderawi lahir, perasaan batin, ekperimental, berita mutawatir dan kepastian rasional), menghasilkan kesimpulan meyakinkan. Qiyas ini disebut demonstrasi (burhan). Jika tidak, maka salah satu dari retorika (khithabi), dialektika (jadali), poetika (syi’ri) atau sofistika (sufusthah).

e. Bentuk demonstrasi

Bentuk demonstrasi ada tiga: Bentuk pertama, yakni proposisi yang saling sepadan (ta’adul) terdiri dari tiga skema;

Pertama, illat (kopula) berada di predikat (premis I) dan di subyek (premis II).

Setiap bir memabukkan.

Setiap yang memabukkan hukumnya haram

Kesimpulan : Setiap bir hukumnya haram

Kedua, illat berada di predikat kedua premis.

Sang Pencipta tidak tersusun

Setiap benda tersusun

Kesimpulan : Sang Pencipta bukan benda

Ketiga, illat berada di subyek kedua premis.

Setiap hitam adalah sifat

Setiap hitam adalah warna

Kesimpulan : Sebagian sifat adalah warna

Bentuk kedua, yaitu proposisi yang saling menentukan (talazum). Pakar logika menyebutnya syarat bersambung (syarti al muttashil). Bentuk ini terdiri dari empat skema, namun hanya dua yang berkesimpulan. Keduanya adalah:

Pertama, menerima sebab berarti menerima akibat.

Jika shalat sah, maka pelakunya suci (telah berwudhu)

Shalat itu sah

Kesimpulan : pelakunya suci

Kedua, menerima negasi akibat berarti menerima negasi sebab.

Jika shalat sah, maka pelakunya suci (telah berwudhu)

Pelakunya tidak suci

Kesimpulan : shalatnya tidak sah

Kedua skema yang tidak berkesimpulan adalah:

Pertama, menerima akibat belum tentu menerima sebab.

Jika shalat sah, maka pelakunya suci (telah berwudhu)

Pelakunya suci, tapi belum tentu shalatnya sah (sebab boleh jadi shalat itu batal karena hal lain).

Kedua, menerima negasi sebab, belum tentu menyimpulkan akibat atau negasi akibat.

Jika shalat sah, maka pelakunya suci (telah berwudhu)

Shalatnya tidak sah, belum tentu karena pelakunya tidak suci.

Bentuk ketiga, disebut bentuk saling menentang (ta’anud). Pakar logika menyebutnya syarat terpisah (syarti al munfashil), sementara ahli kalam menyebutnya Sabr wa Taqsim. Bentuk ini juga terbagi menjadi empat pengandaian:

Contoh: Alam ini kekal atau diciptakan

Pengandaian pertama: Alam ini diciptakan

Kesimpulan: Alam ini tidak kekal

Pengandaian kedua: Alam ini kekal

Kesimpulan: Alam ini tidak diciptakan

Pengandaian ketiga: Alam ini tidak diciptakan

Kesimpulan: Alam ini kekal

Pengandaian keempat: Alam ini tidak kekal

Kesimpulan: Alam ini diciptakan

f. Mantik di Dalam Al Qur'an?

Menariknya, Abu Hamid al Ghazali mengatakan bahwa Al Qur’an menggunakan tiga cara penyimpulan logis ini (ta’adul, talazum dan ta’anud) dalam menjawab argumentasi penentangnya. Sang Hujjatul Islam menamakan ketiganya dengan ‘Neraca Al Qur’an’ (mizan Al Qur'an), serta menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an yang menyebut mizan dengan model pembuktian logis ini.[15] Untuk neraca ta’anud, Al Ghazali mengajukan tiga ayat yang sekaligus menandai tiga bentuk skemanya. Ayat pertama, ucapan Ibrahim As ketika berdebat dengan Namruz, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka (jika kau tuhan) terbitkanlah dari barat!” (Qs Al Baqarah [2]: 258). Al Ghazali kemudian merangkainya dalam bentuk burhan, ia berkata:[16]

Setiap yang mampu menerbitkan matahari adalah tuhan (premis I)

Allah mampu menerbitkan matahari (premis II)

Kesimpulan: Allah tuhan

Al Ghazali menamakan skema pertama dari neraca ta’adul ini dengan neraca besar. Berikutnya adalah neraca pertengahan, yaitu terdapat dalam ayat (masih tentang Ibrahim As, kali ini ketika ia mencari tuhan lalu kebetulan melihat bulan), “Ketika bulan itu terbenam, ia berkata aku tak suka sesuatu yang tenggelam.” (Qs Al An’am [6]: 7) Uraiannya sebagai berikut:[17]

Bulan tenggelam

Tuhan tidak mungkin tenggelam

Kesimpulan: Bulan bukan tuhan

Skema terakhir dari neraca ta’adul adalah neraca kecil, yaitu terdapat dalam firman Allah, “Mereka tidak menghargai Allah dengan seharusnya ketika mereka berkata Allah tidak menurunkan (wahyu) apapun kepada manusia. Katakanlah, ‘Lalu siapa yang menurunkan Kitab kepada Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia?’” Uraian logisnya sebagai berikut:[18]

Musa As manusia

Musa As menerima wahyu (Al Kitab) dari Allah

Kesimpulan: Sebagian manusia ada yang menerima wahyu

Neraca talazum terdapat dalam ayat, “Jika ada tuhan selain Allah, niscaya langit dan bumi akan hancur.” (Qs Al Anbiya [21]: 22). Rinciannya:[19]

Jika di dunia ini ada tuhan lain, maka dunia akan hancur

Nyatanya dunia tidak hancur

Kesimpulan: Tidak ada tuhan lain

Terakhir, neraca ta’anud terdapat dalam ayat, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi?’ katakanlah, ‘Allah, dan kami atau kalian yang mendapat petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.’” (Qs Saba [34]: 24). Uraiannya adalah:[20]

Kami atau kalian (salah satu dari kita) berada di dalam kesesatan

Kami tidak dalam kesesatan

Kesimpulan: Kalian berada dalam kesesatan

Perhatikan bagaimana Al Ghazali menempatkan mantik bukan sebagai warisan tradisi Hellenistik, tetapi merupakan bagian inheren dari Al Qur’an. Maka jangan heran jika kemudian hari Hujjatul Islam ini memfatwakan bahwa mempelajari ilmu mantik sebuah fardhu kifayah, dan barangsiapa tidak menguasai ilmu ini pengetahuannya patut diragukan.

Ibn Taymiah dan Kritik Mantik

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah Ibn Taymiah lahir di Haran pada Rabi’ ul Awal 661 H. Pada tahun 667 H, ayahnya membawanya ke Damaskus ketika bangsa Tartar menyerbu Haran. Di kota ini, ia mempelajari hadis, fiqih, ushul, tafsir bahkan juga fiksafat dan logika. Allah menganugerahinya banyak buku, kecerdasan dalam memahami sesuatu serta hafalan kuat sehingga tidak pernah melupakan sesuatu yang pernah dihafalnya. Selain itu, ia juga seorang zuhud dan ikhlas dalam memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran. Persengketaan yang terjadi antara dirinya dan para pendengki membuahkan penahanan dirinya di benteng (qal’ah) Damaskus, dekat makam Abu Darda. Setelah beberapa hari menderita sakit dipengasingannya, pada tahun 728 H beliau meninggal dunia lalu dimakamkan di pekuburan Shufiah dengan diiringi ribuan manusia.[21]

Ibn Taymiah terkenal sebagai ulama yang sangat keras mempertahankan sunnah dan menentang bid’ah. Termasuk dalam hal ini adalah penentangannya terhadap mantik sebagai produk pemikiran Yunani yang bertentangan dengan tradisi para salaf saleh. Buku-bukunya tentang hal ini antara lain adalah Naqdh ul-Mantiq, Ar-Rad ‘ala Manthiqiyyin dan Nashihat Ahl il-Iman fir Radd ‘ala Mantiq il-Yunan. Dalam tulisan kali ini, saya akan memfokuskan pembahasan kritik mantik Ibn Taymiah kepada satu pengantar, yaitu pernyataan bahwa hukum mempelajari mantik adalah fardhu kifayah, dan dua bahasan pokok yang berkenaan dengan definisi dan sylogisme.

a. Pengantar: Mantik Wajib Dipelajari?

Penegasan Al Ghazali yang menyatakan bahwa hukum mempelajari mantik fardhu kifayah menyulut kritikan dari berbagai ulama hingga berabad-abad kemudian. Abu Bakar Ibn Al ‘Arabi, murid Al Ghazali sendiri, mengomentari, “Al Ghazali, guru kita, menelan filsafat lalu mencoba memuntahkannya kembali, namun ia tidak bisa.”[22] Abu Amr Ibn Shalah menolak pendapat Al Ghazali dan mengatakan bahwa setiap orang yang otaknya cerdas otomatis berpikirnya logis tanpa harus belajar mantik.[23] Berdiri dalam barisan penolak ini, Ibn Taymiah berkata, “Pendapat Abu Hamid (Al Ghazali) ini salah besar, baik dilihat dari segi rasional maupun agama. Dari segi rasional, terbukti bahwa manusia-manusia cerdas yang berbicara tentang ilmu bisa menguraikan pengetahuan mereka tanpa mantik Yunani. Secara agama, siapapun tahu bahwa agama tidak pernah mewajibkan kita untuk mempelajari mantik.”[24]

Ibn Taymiah juga menyalahkan penafsiran kata al mizan dalam Al Qur'an dengan mantik Yunani dengan beberapa alasan. Pertama, Allah telah menurunkan Neraca Qur’ani jauh sebelum Aristoteles menemukan mantik. Kedua, umat Islam telah menggunakan Neraca Qur’ani ini sebelum buku-buku mantik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ketiga, sejak masa penerjemahan buku-buku ini hingga sekarang, tokoh-tokoh Islam selalu mengajukan keberatannya terhadap mantik dan menulis bantahan-bantahan terhadapnya. Neraca yang Allah turunkan bersama Al Kitab itu, menurut Ibn Taymiah, adalah neraca keseimbangan (mizan ‘adilah) yang memuat aktualisasi fitrah manusia yang menyamakan dua hal yang mirip satu sama lain (mutamatsilain) dan memisahkan dua hal yang berbeda (mukhtalifain). Sebagai contoh, firman Allah, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga padahal kalian belum menemui (kesulitan) seperti umat sebelum kalian?” (Qs Al Baqarah [2]: 214) dalam menyamakan antara generasi saat ini dengan generasi sebelumnya. Dan Allah berfirman, “Apakah (kalian mengira) bahwa Kami akan memperlakukan orang-orang yang beriman seperti para durjana?” (Qs Al Qalam [68]: 35) dalam membedakan antara kedua golongan yang berbeda ini.[25]

b. Bantahan Terhadap Definisi

Benarkah pengetahuan tashawwuri tidak bisa diperoleh tanpa definisi logis dengan lima universalitasnya (kulliyat al khams), yakni genus (jins), differensia (fashl), species (nau’), aksiden umum (‘ardh ‘am) dan aksiden khusus (‘ardh khash)? Ibn Taymiah mengajukan 11 kritik untuk membantah pernyataan ini. Pada kesempatan kali ini, saya hanya akan mencantumkan empat dari sebelas kritik itu.

1. Penegasian (nafy), seperti juga penetapan (itsbat), jika bukan aksiomatik harus dilandasi bukti. Karena tidak ada bukti yang mendukungnya, maka pernyataan ini wajib ditolak.

2. Jika definisi adalah ucapan seorang pembuat definisi, maka ia telah mengetahui benda yang akan didefinisikan ini lewat definisi atau tidak. Jika ya, maka mewajibkan argumentasi berputar (daur) dan berantai (tasalsul) yang tidak akan habis. Jika tidak, maka batal ucapan negasi mereka.

3. Konsepsi hakikat tidak bisa dilakukan kecuali lewat definisi hakiki yang terdiri dari essensi universal (musytarakah) dan terpilah (mutamayyizah), yakni yang tersusun dari genus dan defferensia, dan ini mustahil atau sangat sulit sebagaimana pengakuan mereka sendiri. Dengan demikian, mustahil atau sangat sulit mengkonsepsikan hakikat, padahal terbukti hakikat itu bisa dikonsepsikan manusia, maka batallah pernyataan mereka.

4. Benda-benda konseptual bisa diketahui dengan indera lahir (seperti warna, rasa dan bau) atau dengan indera batin (seperti lapar, cinta, benci, keinginan dan lain-lain). Semua ini bisa diketahui tanpa memerlukan definisi. Jadi, batal pernyataan mereka bahwa konsepsi (tashawwur) tidak bisa dicapai tanpa definisi.

Persoalan berikutnya, benarkan definisi menghasilkan pengetahuan tentang hakikat sesuatu? Menurut Ibn Taymiah, definisi tidak memberikan pengetahuan tentang hakikat, akan tetapi hanya membedakan sesuatu dari lainnya. Definisi seperti nama, hanya membedakan seseorang dari orang lain tanpa menjelaskan hakikatnya. Untuk ini, Ibn Taymiah mengajukan beberapa bukti:

1. Definisi hanyalah pernyataan pembuatnya tanpa bukti. Ketika seseorang berkata, “Manusia adalah hewan yang berpikir”, ini hanya kalimat informatif tanpa bukti. Maka sudahkah pendengar mengetahui kebenarannya tanpa ucapan ini atau belum? Jika sudah, definisi ini tidak menghasilkan pengetahuan tentang sesuatu itu. Jika belum, bagaimana ia bisa meyakini kebenarannya hanya berdasarkan informasi satu orang yang tidak terjaga dari kesalahan?

2. Mereka berkata bahwa definisi tidak bisa dibuktikan, hanya bisa ditentang. Jawab: jika seorang pembuat definisi tidak mengajukan bukti, pendengar bisa saja tidak menerima definisi itu. Sebab ia tidak bisa mengetahui sesuatu yang didefinisikan itu tanpa ucapannya, sementara ucapannya mengandung kemungkinan benar dan salah, maka ia bisa menolak menerimanya.[26]

Sumber kesalahan ahli mantik yang lain adalah pemilahan antara hakikat dan wujud sesuatu. Menurut mereka, keduanya ada di alam nyata. Jadi, hakikat-hakikat universal dari benda-benda parsial, seperti manusia, kuda dan lain-lain, adalah realitas sebagaimana wujudnya yang kita lihat ini. Realitas-realitas ini azali dan tidak bisa berubah, inilah yang mereka sebut sebagai “ide-ide platonis”. Menurut Ibn Taymiah, ini pemilahan yang sangat keliru. Pemilahan yang benar adalah pemilahan antara abstraksi yang ada di otak manusia dengan benda yang ada di alam nyata, sebab pemilahan ini tak diragukan kebenarannya. Dan hakikat berada di alam nyata, bukan di benak manusia (al haqiqah fil a’yan la fil azhan). Sementara memperkirakan adanya hakikat yang tidak didukung dalil ilmiah dan realitas hanyalah sebuah kebodohan.[27]

c. Bantahan Terhadap Sylogisme

Menurut Ibn Taymiah, sylogisme tidak menghasilkan apa-apa selain kerumitan dan kepusingan. Seperti orang yang ditanya, “Mana telingamu?”, ia lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi kemudian menunjukkan telinga kirinya. Meski begitu, Ibn Taymiah mengakui bahwa sebuah sylogisme yang terdiri dari premis-premis meyakinkan (atau disebut demonstrasi [burhan]) menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan. Kritik Ibn Taymiah hanya ditujukan kepada pernyataan mereka bahwa sylogisme satu-satunya cara mencapai kesimpulan meyakinkan dengan menafikan cara-cara lainnya. “Mereka benar dalam apa yang mereka tetapkan, namun keliru dalam apa yang mereka negasikan,” demikian Ibn Taymiah, “dan negasi mereka inilah sumber kesesatan dan kefasikan mereka.”[28]

Ibn Taymiah kemudian menyebutkan bukti-bukti kelirunya pernyataan ini. Ia menyebutkan bahwa para nabi dan para wali memiliki pengetahuan yang mereka peroleh tanpa jalan sylogisme. Begitu juga, ilmu firasat yang terbukti kebenarannya, diperoleh tanpa sylogisme. Bagi orang tertentu, terbit bintang tertentu menunjukkan arah Ka’bah, terbitnya bintang ini menunjukkan tenggelam atau terbitnya bintang lain di ufuk, dan lain-lain. Allah berfirman, “Dan dengan bintang, mereka mendapatkan petunjuk.” Juga, bagi orang yang mengetahui jarak antar bintang, melihat posisi bintang memberitahunya waktu malam yang tersisa. Begitu juga, orang tertentu bisa mengetahui nama negeri yang ia datangi dengan gunung, sungai dan angin yang ia lihat dan rasakan.[29] Semua ini tidak menggunakan sylogisme logis ala Yunani sama sekali.

Oleh karena itu, para tokoh muslim tidak menggunakan dalil sylogisme ini. Sebab menurut mereka, dalil adalah sarana yang membawa kepada tujuan. Yakni mengetahui dalil harus membawa kepada pengetahuan yang dituju, atau kepada keyakinan yang benar. Mereka lebih menyukai pembuktian dengan dalil persamaan (tamsil), sebab pembuktian ini lebih meyakinkan dan lebih dekat dengan metode Al Qur'an. Pembuktian ini bertumpu kepada dalil sesuatu me-lazim-kan sesuatu yang lain, atau keduanya saling me-lazim-kan.[30] Contoh: adanya alam semesta melazimkan adanya pencipta. Selain itu, pembuktian ini juga bertumpu kepada kemungkinan yang benar-benar nyata (imkan khariji), bukan kemungkinan rasional semata (imkan dzihni) yang belum tentu ada kenyataannya. Kemungkinan nyata dapat diketahui dengan melihat terjadinya sesuatu yang mirip dengannya atau yang lebih sulit darinya. Ini cara Al Qur’an dalam membuktikan adanya hari kebangkitan. Yakni dengan menguraikan fakta historis terjadinya kebangkitan orang yang telah mati sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Musa, penghuni gua (ashhabul kahfi), dan mukjidzat Nabi Isa. Atau dengan menjelaskan proses penciptaan manusia, sebab menghidupkan kembali lebih mudah daripada menciptakannya pertama kali.[31]

Penutup: Pengaruh ibn Taymiah

Ketika sekilas saya mengamati buku “Kubra Al Yaqiniat Al Kauniah: Wujud ul-Khaliq wa Wazifat ul-Makhluq” karya Dr Said Ramadhan Al Buthi, saya menemukan sedikit peninggalan Ibn Taymiah di dalamnya. Dalam pengantar cetakan ketiga-nya, Dr Said menulis, “Apakah dalam menguraikan pembahasan akidah islamiah dalam buku ini kami berpedoman kepada filsafat Yunani dan logika formal (mantik shuri)?…Kami tidak menggunakannya sama sekali. Kami hanya menyajikan kepada pembaca dalil-dalil dan bukti-bukti yang diakui akurasinya sepanjang sejarah meski diungkapkan dengan bahasa yang berbeda-beda.”[32]

Selanjutnya, setelah menyebutkan kekurangan dan kelebihan mantik, Dr Buthi berkata, “Kami tidak berkata bahwa filsafat Yunani dan logika Aristoteles semuanya salah. Tidak ada alasan sama sekali untuk menutup mata dan pikiran darinya. Di dalamnya banyak hal yang bermanfaat, namun banyak pula yang menyulut kritikan dari para ulama dan filosof muslim. Orang yang selalu hendak membangun pemikirannya dengan dasar-dasar ilmiah harus mampu memilih yang baik dari orang lain, daripada menolaknya sama sekali.”[33] Ini pendirian Ibn Taymiah yang mengakui adanya hal-hal positif dalam mantik, karena itu ia tidak membantah demonstrasi yang didukung premis-premis meyakinkan, meski negatifnya lebih banyak daripada positifnya.

Kemudian, di pembukaan (tamhid) yang membandingkan metode ilmiah pemikir muslim dan pemikir Barat, Dr Buthi menyebutkan bahwa analisa rasional yang digunakan kaum muslimin dalam membahas sesuatu yang tidak diberitakan oleh Al Qur'an dan hadis mutawatir adalah dilalah iltizam dan qiyas ‘illat.[34] Dan keduanya benar-benar metode alternatif yang ditawarkan Ibn Taymiah. Wallahu A’lam.

Catatan:



[1] Abdurrahman bin Khaldun, Diwan ul-Mubtada wal Khabar fi Tarikh ‘Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min Dzaw il-Sya’n il-Akbar (Muqaddimah Ibn Khaldun), (Damaskus: Dar ul-Fikr, 2003), h. 486.

[2] Ibid. h. 487

[3] Ibid. h. 488

[4] Lihat Ibid. h. 488-489 sebab ini sangat penting.

[5] Abu Nasr Al Farabi, Ihsha ul-‘Ulum, (Mesir: Dar Al Fikr Al ‘Arabi, tth.), h. 54.

[6] Abu Hamid Al Ghazali, Al Mustashfa fi ‘Ilm Al Ushul, (Beirut: Dar ul Qalam, tth.), jilid I, h. 29. Pernyataan ini menyulut kecaman keras dari Ibn Taymiah dan lain-lain sebagaimana yang akan saya jelaskan di bab berikutnya. Lihat h. 8 dari makalah ini.

[7] Ibid, h. 30.

[8] Kedua pernyataan tentang definisi ini, yakni definisi menghasilkan pengetahuan dan tashawwur tidak bisa dicapai tanpanya, akan dibantah Ibn Taymiah pada bab berikutnya. Lihat h. 9.

[9] Ibid, h. 33-36.

[10] Pembagian sifat benda ini juga kelak akan dibantah Ibn Taymiah. Lihat h. 9.

[11] Ibid, h. 75.

[12] Ibid, h.79.

[13] Ibid, h. 88.

[14] Ibid, h. 90-92.

[15] Ibn Taymiah kelak membantah pernyataan ini. Lihat h. 8.

[16] Abu Hamid Al Ghazali, “Al Qisthas ul Mustaqim” dalam Majmu’at Rasail Al Imam Al Ghazali (Beirut: Dar ul-Kutub il-Ilmiah, tth.), jilid III, h. 14.

[17] Ibid, h. 20.

[18] Ibid, h. 24.

[19] Ibid, h. 26.

[20] Ibid, h. 28.

[21] Ibrahim bin Muhammad bin Muflih, Al Maqshad Al Al Arsyad fi Dzikr Ashhab Al Imam Ahmad,(Riyad: Maktabah Rusyd, 1990), jilid 1, h. 139.

[22] Al Dzahabi, Op. Cit., h. 327.

[23] Ibid, h. 329.

[24] Ibn Taymiah, “Nashihat ahli l-Iman fi r-radd ‘ala Mantiq il-Yunan” dalam Majmu’ Fatawa, (Riyadh: King Fahd, tth. ), h.

[25] Ibid. h.

[26] Ibid. h.

[27] Ibid. h.

[28] Ibid, h.

[29] Ibid. h.

[30] Ibid. h.

[31] Ibid. h.

[32] Dr Said Ramadhan Al Buthi, Kubra Al Yaqiniat il Kauniah: Wujud ul-Khaliq wa Wazifat ul-Makhluq, (Damaskus: Dar ul-Fikr, 1998), h. 17.

[33] Ibid. h. 18.

[34] Ibid. h.40-44

Umar, alumni jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kini tengah tinggal di Damaskus, mengikuti persiapan (i’dady) kuliah di Universitas Damaskus

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia



Dipetik dari :-

http://akulelakiitu.multiply.com/journal/item/226/Menimbang_Mantik_Antara_Al_Ghazali_dan_Ibn_Taymiah_






Baca lagi...

Friday, October 23, 2009

Yang Perlu Ditukar Bukan Presiden, Tetapi Puak Anai2 Dlm Pas

Assalamualaikum
by setiapemuda

Berat rasanya untuk menulis. Bimbang jika akal ini masih terkeliru. Benarkah Tuan Guru Nik Abdul Aziz (TGNAA) yang menulis perkara tersebut… Saya masih cuba bersangka baik bahawa Tuan Guru diserabutkan oleh pandangan-pandangan sekeliling yang masih membesar-besarkan isu “perpaduan melayu Islam” atau “pimpinan pas yang pro umno”.

Terasa amat terkilan apabila TGNAA yang memulakan kehangatan ini. Mula-mula dulu, isu “kerajaan perpaduan”, kemudian isu “ustaz Nasha” sekarang timbul pula isu yang baru… Bagi TGNAA yang berada di peringkat atasan atau pembesar-pembesar PAS Kelantan mungkin tak rasa apa-apa menimbul dan membesarkan perkara-perkara seperti ini, tetapi bagi kami ahli PAS di peringkat bawahan amat terasa kesannya. Lemah rasa nak menggerakkan aktiviti tarbiyah jika pimpinan sendiri bercelaru. Tak upaya rasanya nak menggerakkan organisasi cawangan mahu pun kawasan apabila tengok karenah pimpinan yang sepertinya bertelagah.

Dalam kesempatan ini, saya ingin komen beberapa perkara :

1. Jangan ada sesiapa yang marah kalau ramai ahli yang kritik atau tegur TGNAA selepas ini kerana tulisan beliau sendiri telah mendatangkan dalil bahawa harus malah dituntut untuk mengkritik dan menegur pemimpin malah Nabi sendiri pun ditegur oleh Allah s.w.t.

2. TGNAA lebih merujuk kepada tulisan Prof Dr Abdul Aziz Bari yang menulis tentang - antara factor kekalahan PAS di Bagan Pinang ialah isu-isu di Selangor disamping adanya pimpinan PAS yang dilihat pro-UMNO dengan menyebut beberapa nama seperti Dr Hasan Ali, Ust Nasha dan Tuan Guru Haji Abdul Hadi (TGHAA). Sedangkan pandangan tersebut telah dijawab dan disangkal oleh Ustaz Tuan Ibrahim Tuan Man (Naib Presiden), Dato’ Mustafa Ali (Setiausaha Agung), Ustaz Idris Ahmad (Ketua Penerangan) yang merupakan anggota dewan harian PAS Pusat.

3. Lebih menarik untuk dibincangkan bahawa pandangan Prof Dr Abdul Aziz Bari ini selari (atau mungkin merujuk) kepada beberapa pandangan pimpinan PAS seperti Dr Dzulkifli (yang tidak lagi dilantik sebagai Pengarah PPP) dan Ir Khalid Samad (dipecat dari jawatan Timb Pesuruhjaya PAS Selangor) yang memang kita ketahui sangat kontroversi di kalangan ahli PAS. Di sinilah menariknya untuk dibuat kajian.

4. Saya rasa, dari sekadar menerima pandangan Anual Bakri dan beberapa pembesar PAS Kelantan dalam isu ada pimpinan PAS yang Pro-UMNO ini, ada baiknya juga TGNAA dan ahli PAS sekalian membuat beberapa penelitian terhadap maklumat-maklumat berikut (maaf jika tidak berdasarkan siasatan rapi, cuma sekadar pandangan macam Prof Dr Aziz Bari juga) :

- Seperti adanya perancangan tertentu dari kalangan pimpinan baru PAS (yang timbul selepas era reformasi) yang tidak “sejiwa” dengan pimpinan yang sebati dengan PAS semenjak dari awal seperti Dr Dzulkifli (bekas pimpinan IRC), Dr Mujahid Yusuf Rawa (JIM/alami), Dr Lo’ Lo’ (JIM), Dr Mariah (JIM), Dato Jaafar Kamaruddin (ABIM-Pro-Anwar) dan lain-lain.

- Dr Dzulkifli dan Dr Mujahid Yusud Rawa adalah orang kuat IRC/JIM/alami yang terlibat dengan program “Indimaj” – penggabungan antara jamaah fikrah ikhwan di Malaysia. Mereka ini memang ada krisis dengan jamaah mereka yang sebelumnya kerana mempelopori pendekatan yang kononnya “dinamik” sementara geng-geng yang pro fikrah Ikhwan ni ingin menjaga ketulinan jamaah. Sekarang mereka bawa masalah dalam PAS juga dengan idea “dinamik” kononnya.

- Dr Mariah juga bermasalah dengan PAS kawasannya menurut sumber yang saya perolehi. Dia sepertinya hanya beranggapan PAS ini adalah sebuah gerakan politik bukan gerakan tarbiyah. Dia hanya melibatkan diri dengan aktiviti politik PAS, tetapi tidak terlibat dengan usrah kawasan atau muslimat PAS.

5. Jika kita meneliti dari masa ke semasa perkembangan dalam PAS, kita juga akan dapat melihat bila timbulnya isu puak Erdogan dan puak Erbakan dalam PAS. Ia bermula dari lawatan rasmi Pimpinan PAS ke Turkey. Di sana Dr Dzul bersama Hanifa Maidin telah mengadakan dialog dengan AKP dan Refah. Dr Dzul menyatakan bahawa jika situasi di Turki berlaku di Malaysia, PAS akan memilih cara pendekatan AKP pimpinan Erdogan. Benarkan PAS akan memilih pendekatan tersebut atau Dr Dzul sahaja? Ikhwan Muslimin pun ada mengkritik, menegur dan memberi nasihat kepada AKP yang dilihat agak liberal dalam pendekatannya yang dibimbangi akan melangkahi prinsip Islam.

6. Dalam pemilihan pimpinan PAS tahun 2004 di Kelantan, tersebar ketika itu adanya gerakan dari kumpulan ini yang diistilahkan oleh sesetengah perwakilan sebagai “anai-anai” yang mengangkat Ustaz Nasharuddin bagi mencabar Ustaz Hasan Syukri selaku Timbalan Presiden. Pada waktu itu, mereka melihat Ustaz Nasharuddin sebagai anak didik Ustaz Fadhil Noor adalah “pembuka jalan” kepada mereka di dalam tampuk kepimpinan PAS. Pada ketika itu juga “mereka” mencalonkan Ustazah Azizah dari Pahang untuk mencabar Ustazah Fatimah (isteri Ustaz Harun Taib) selaku ketua muslimat. Anda boleh melihat sewaktu Ustazah Azizah menjadi ketua muslimat, wajah siapa yang lebih menonjol dalam harakah dan program muslimat, kalau tidak wajah Dr Mariah dan gengnya.

7. Tetapi, setelah Ustaz Nasharuddin memegang jawatan tersebut, beliau rupanya tidak dapat dimanfaatkan oleh “geng anai-anai” tersebut lantaran beliau adalah pemimpin yang faham dan melalui tarbiyah jamaah semasa di peringkat kampusnya dahulu. Akhirnya kumpulan ini merancang agenda seterusnya. Namun Alhamdulillah, ahli PAS yang ditarbiyah dengan tarbiyah PAS menyedari rentak tari yang semakin tampak sumbangnya itu. Dalam pemilihan 2006 juga di Kelantan (rasanya), ahli yang pro tarbiyah PAS ini mencalonkan Ustazah Nuridah Salleh dan Wan Hasrina bagi mencabar Ustazah Azizah dan Dr Lo’ Lo’. Dr Mariah telah dikalahkan di peringkat kawasan lagi. Sementara untuk menunjukkan PAS ini tidak boleh dikawal oleh “anai-anai” tersebut, pihak pro Tarbiyah PAS ini mencalonkan Ustaz Harun Taib bagi mencabar Ustaz Nasharuddin walaupun sebenarnya mereka tidak pun berhasrat menaikkan Ustaz Harun sebagai Timbalan Presiden. Pencalonan itu hanya sebagai petunjuk dan amaran kepada puak “anai-anai” ini.

8. Geng “anai-anai” ini kemudiannya menyusun kembali agenda mereka. Nampaknya, mereka tidak mungkin mampu menggugat pemimpin senior dalam PAS yang sejati dan sebati ini. Maka idea “dinamik” mereka itu tidak dapat dilaksanakan. Pendekatan seterusnya ialah dengan menonjolkan “pemimpin muda” lain dalam PAS yang boleh dikawal oleh mereka. Dato’ Husam Musa adalah tokoh yang dilihat sebagai peluang mereka seterusnya. Selain dari dokongan pembesar-pembesar Kelantan, Husam adalah “penyejuk mata” kepada TGNAA. Orang yang mungkin dilibatkan sama dalam permainan ini ialah Annual Bakri, selaku pembantu dan pendamping TGNAA. Selepas PRU 2008, dengan jawatan sebagai ahli parlimen dan ahli dewan undangan negeri, YB-YB geng anai-anai ini merangka kembali agenda besar mereka. Ketika inilah menonjolnya seorang tokoh lama PAS yang sebelumnya “bertapa” kemudian dengan kemenangan sebagai AP Shah Alam, merasa besar kepala apabila di kelilingi oleh “anai-anai” ini.

9. Dalam pemilihan PAS 2009, agenda mereka ialah menaikkan tokoh-tokoh baru ini. Perancangan pertama menurunkan Ustaz Nasharuddin dan bonusnya ialah jika boleh menjatuhkan TG Haji Abdul Hadi. Demi menjaga sentimen ahli PAS yang sangat kasih terhadap Tok Guru Haji Abdul Hadi, maka mereka melalui Husam Musa dan pembesar PAS Kelantan beserta sentimen kenegerian Kelantan-Terengganu telah secara halus melibatkan TG Nik Abdul Aziz. Mereka memanfaatkan sepenuhnya kekangan yang ada pada TG Nik Abdul Aziz yang sering uzur serta sikap sangat percaya beliau kepada orang bawahannya di Kelantan, untuk mencapai hasrat dan cita-cita mereka. Di sini barulah TG Nik Abdul Aziz terlibat. Kalau ahli PAS sekalian mendampingi Tuan Guru dengan dekat, tuan-tuan akan menyedari kekangan ini. Mungkin inilah jua yang cuba diluahkan oleh anak beliau, Nik Abduh dalam tulisannya yang kontroversi dulu, tetapi beliau dihentam hebat. TGNAA sebenarnya sangat uzur. Lihatlah ketika beliau menyampaikan kuliah di Masjidnya setiap selepas Subuh Jumaat. Tidak sedikit dari urusan kerjanya diwakilkan kepada pembantu-pembantunya di Kelantan. Beliau memang sudah sesuai untuk berehat. Tetapi, situasi PAS dan rakyat di Kelantan masih memerlukan pengaruh beliau. Tidak perlulah kita membesarkan tentang kroniknya PAS Kelantan dengan “klik” dan “puak”nya. Malah ada pemerhati yang memberi pandangan bahawa factor kekalahan wakil PAS dalam Muktamar yang lepas adalah kerana “klik” sesame Kelantan inilah, bukan kerana factor luar. Masalah ini memerlukan perlunya TGNAA di Kelantan.

10. Saya sangat bersangka baik bahawa TGNAA, Dato’ Husam Musa, Ir Khalid Samad, Dr Hatta dan klain-lainnya bukanlah pemain wayang kulit sebenar. Bagi saya mereka ini orang baik yang mungkin secara tidak disedari, terpengaruh dengan geng anai-anai tadi. Pemain yang sebenar adalah penama anai-anai yang saya sebutkan tadi. Mungkin sahaja mereka menafikan. Kalau mereka nafikan, ini bermakna mereka semakin sebati dengan anai-anai tadi…

11. Pada pandangan saya, Muktamar Khas tidak perlu diadakan kerana ahli telah membuat keputusannya dalam muktamar yang lepas. Yang terpilih sudah terpilih. Hormatilah keputusan ahli. Ahli telah menghantar isyarat yang jelas bahawa mereka masih inginkan TG Haji Abdul Hadi memimpin PAS. Mereka masih mahukan Ustaz Nasharuddin memimpin PAS. Ahli juga telah memberi isyarat bahawa mereka suka dengan pimpinan yang komit dan setia seperti Ustaz Tuan Ibrahim, Saudara Salehuddin Ayub, Mahfuz Omar, Ustaz Idris, Ustaz Nasarudin Tantawi, Ustazah Nuridah dan sebagainya. Tunggulah tahun 2011, kita buat pemilihan baru.

12. Maafkan saya kerana tegar menulis perkara ini yang mungkin berbentuk kritikan dan mungkin berbentuk pembongkaran isu dalaman parti. Saya berani berbuat demikian kereka saya mencontohi teladan yang telah ditunjukkan oleh TG Nik Abdul Aziz. Dulu saya hanya memendamnya dan mendiamkan diri kerana mencontohi TG Haji Abdul Hadi, hari ini saya cuba pula mencontohi TG Nik Abdul Aziz dalam berterus terang dan menegur.

Saya tidak tahu apa hasil dari tulisan ini. Saya harap ada sesuatu yang dapat kita beri perhatian, khususnya ahli-ahli PAS. Semoga tulisan ini tidak menggemparkan seperti gemparnya tulisan Tok Guru tersebut…. Maafkan saya. Assalamualaikum wrt.

Baca lagi...

Saturday, October 10, 2009

8 Foods That Fight Fat

SELF.com

By Lucy Danziger, SELF Editor-in-Chief - Posted on Thu, Oct 08, 2009, 3:32 pm PDT

More By This Expert

All Blog Posts

Did you find this helpful?

Rate this blog entry:
97% of users found this article helpful.

Want to lose weight as you chow down? Your wish is granted! (I promise, this is no fairy tale.) Your supermarket is filled with foods that studies show have lipid-melting powers to help melt fat and keep you slim. Stock up on these fat-fighting super bites, and you'll be trimmer even as you indulge. Read on to discover the eight foods that deserve a permanent spot in your fridge—and in your diet!

Almonds These yummy nuts are high in alpha-linolenic acid, which can accelerate your metabolism of fats. In fact, dieters who ate 3 ounces of almonds daily slashed their weight and body-mass index by 18 percent, while those who skipped the nuts reduced both numbers less— just 11 percent—a study in the International Journal of Obesity revealed. Chomp almonds à la carte (limit yourself to 12 per serving to keep calories in check). I get a pack at Starbucks and nibble throughout my day. Or sprinkle them into a recipe such as Black Bean–Almond Pesto Chicken. Go nuts!

Berries I tell my daughter, "These are nature's candy!" Turns out they're also your body's best friends. Strawberries, raspberries and other vitamin C–spiked fruit can supercharge your workout, helping you burn up to 30 percent more fat, research from Arizona State University at Mesa has found. If they're not in season, buy the little gems frozen in a bulk-sized bag so you'll always have them on hand to whip up a Berry Bliss Smoothie or Strawberry-Sunflower Pops, regardless of whether berries are in season.

Cinnamon Adding 1/4 teaspoon to your plate may prevent an insulin spike—an uptick that tells your body to store fat. Sprinkle it on your morning cereal or coffee or on your yogurt in the A.M., or savor it in Apple-Cinnamon-Raisin Oatmeal.

Mustard It's heaven on a soft pretzel, but mustard may also be a weight loss wonder. Turmeric, the spice that gives mustard its color, may slow the growth of fat tissues, a study in the journal Endocrinology finds. Use it on sandwiches instead of mayo, or sprinkle turmeric on cauliflower pre-roasting to give it a kick. Try it on tuna salad—I promise it adds zest.

Oranges This citrus fruit, which contains fat-blasting compounds known as flavones, deserves to be your main squeeze. Women who ate the most flavones had a much lower increase in body fat over a 14-year period, a study in The American Journal of Clinical Nutrition notes. Eat oranges sliced or swig fresh OJ (including pulp!) to get the best benefit from the fruit.

Soybeans Reason to toss a half cup on your salad? Soybeans are rich in choline, a compound that blocks the absorption of fat and breaks down fatty deposits. Oh, and they're addictively delish! But if breast cancer runs in your family, experts suggest you should talk to your doc before adding soy to your diet.

Sweet potatoes The colorful spuds' high-fiber content means they keep your insulin steadier than their white sisters, which means less fat packed on your hips, research finds. Top a small baked tater with lowfat cottage cheese for a tempting side dish, or whip up Miso Soup With Sweet Potato Dumplings.

Swiss cheese Calcium-rich foods reduce fat-producing enzymes and increase fat breakdown, and Swiss has more calcium than many of its cheesy peers. Choose the reduced-fat variety, such as Sargento. Slip it into your sandwich, put it on top of high-fiber crackers or use it for a healthier grilled cheese. Yum!

For other tricks to eating your way to your healthy, happy weight, load up on these 20 slimming superfoods at Self.com.

Baca lagi...

Friday, August 28, 2009

Bila pegawai SPRM perdagangkan laporan rasuah ...

Posted on Sunday, August 23 @ 15:41:17 MYT by dinnoor

Oleh AHMAD LUTFI OTHMAN

Surat misteri yang dikatakan ditulis sendiri oleh pegawai-pegawai Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) berkaitan kes kematian Teoh Beng Hock dan rumah mewah Dr Khir Toyo tidak boleh dipandang ringan. Banyak misteri yang perlu diselongkar dan dibentangkan kepada umum bagi mendedahkan konspirasi jahat di sebaliknya



Timbalan Pengarah SPRM Selangor, Hishamuddin Hashim didakwa menjadi aktor penting, bukan saja dalam proses soal siasat Beng Hock, malah membuat pakatan dengan Khir untuk menjatuhkan kerajaan Pakatan Rakyat di Selangor.

Khir dikatakan rapat dengan Hishamuddin selepas pegawai kanan SPRM itu "menyelamatkannya" daripada pelbagai tuduhan rasuah dan salahguna kuasa, termasuk aduan yang pernah saya laporkan pada 23 Oktober 2001.

Dakwaan terhadap Hishamuddin memang cukup berat lagi mengejutkan. Integriti SPRM yang sebelum ini sudah pun dipersoalkan kini menjadi taruhan yang paling kritikal. Beliau perlu segera membersihkan namanya dan memulihkan imej SPRM. Oleh kerana surat itu sudah tersebar dengan meluas terutama dalam internet, dan menarik perhatian umum, Hishamuddin tidak wajar berdiam diri dengan hanya menunggu siasatan polis.

Bayangkan, bos no. 2 SPRM Selangor itu dituduh menghilangkan semua bukti yang boleh dikaitkan, antaranya dengan mencari helah untuk tidak memberikan sampel DNA, meninggalkan pejabat pada jam 6.10 pagi 16 Julai 2009 tanpa mengetuk kad perakam waktu selepas menjadi orang terakhir menemui Teoh, dan mengarahkan pegawai bawahannya mengelap kesan cap jari pada tingkap yang dipercayai tempat Teoh jatuh.

Beliau juga dikatakan mempunyai teknik soal siasat tersendiri, dengan cara memegang di bahagian hadapan tali pinggang saksi atau suspek dan mengangkatnya beberapa kali serta menggoncangnya!

Saya terpaksa menyebut beberapa dakwaan dalam surat berkenaan -- walaupun belum dapat dipastikan kesahihannya -- bagi menggambarkan betapa seriusnya imej dan integriti SPRM kini. Tanpa integriti SPRM hanya menjadi sendaan awam dan sia-sia sahajalah usaha kerajaan melakukan penambahbaikan kepada BPR dahulu.

Gerun untuk saya mimpikan ... ya, bagaimana jika benar, ada pegawai-pegawai SPRM "memperdagangkan" laporan rasuah yang kita adukan kepada mereka.

Maknanya, segala dokumen yang dikemukakan kepada SPRM dijadikan modal untuk pegawainya "memeras-ugut" secara halus tokoh-tokoh politik terkemuka yang begitu berkuasa khususnya untuk mengagih-agihkan khazanah kekayaan negara. Kes didiamkan jika habuan munasabah dihulur kepada pegawai SPRM berkenaan.

Dokumen dan bukti yang kita serahkan kepada SPRM sepatutnya dijadikan asas untuk satu siasatan lebih profesional, telus dan bertanggungjawab, bukannya untuk dieksploit untuk kepentingan diri. Alangkah hina dan jijiknya jika ada pegawai SPRM yang bertindak sedemikian rupa.

Pengadu bersusah payah mencari bahan bukti, membelanjakan wang dan menghabiskan begitu banyak masa, selain menanggung risiko berat, tetapi ada segelintir pegawai SPRM yang menjadi musuh dalam selimut, gunting dalam liputan ...

Justeru, ada pihak mendakwa terdapat penguasa (ahli politik berkuasa)yang bermurah hati "menganugerahkan" tanah di lokasi strategik dan bintang kebesaran kepada pegawai kanan SPRM untuk "menjinakkan" mereka. Mungkin bagi seorang Perdana Menteri, kes rasuah menteri atau menteri besar di bawahnya boleh dijadikan sandaran untuk memastikan "kesetiaan" mereka berkekalan.

Saya cuba mengelak daripada mengemukakan pengalaman saya sendiri ketika berurusan dengan BPR sebagai bukti bahawa badan siasatan itu tidak boleh dipercayai sepenuhnya bagi membanteras rasuah. Malah dalam banyak keadaan, ia menyemarakkan lagi amalan terkutuk itu; apatah lagi umum mengetahui korupsi merupakan suatu jenayah yang paling sukar dibanteras kerana tidak jelas "siapa mangsanya".

Apa pun, saya mengharapkan kandungan surat misteri itu palsu semata-mata kerana tidak sanggup membayangkan bagaimana masa depan negara ini jika SPRM boleh berkomplot dengan penjenayah rasuah! Hishamuddin perlu tampil menangkis tuduhan itu, jangan biarkan hanya Khir berbuat demikian. Isunya bukan masalah peribadi Hishamuddin tetapi kedudukan SPRM itu sendiri.

Semasa menyiapkan artikel pendek ini, tiba-tiba orang kawan lama yang pernah menolong saya membongkar kegiatan rasuah memaklumkan melalui telefon: "Lutfi, aku boleh tunjukkan tanah-tanah sebuah agensi kerajaan negeri yang dianugerahkan kepada empat pegawai atasan SPRM, dengan harga murah."

http://www.detikdaily.net/v5/modules.php?name=News&file=article&sid=3462

Baca lagi...

Saturday, August 15, 2009

Mana Milik Kita

Antara suara merdu Allahyarham Ustaz Asri.



Mana milik kita
Tidak ada milik kita
Semua yang ada
Allah yang punya

Tidak ada kita punya
Kita hanya mengusahakan saja
Apa yang kita dapat
Allah sudah sediakannya

Kita Allah punya
Dunia ini ciptaan-Nya

Miliklah apa saja
Tidak terlepas dari ciptaan-Nya

Mana kita punya
Tidak ada kepunyaan kita

Kita hanya mengusahakan
Apa yang telah ada

Mengapa kita sombong
Memiliki Allah punya

Mengapa tidak malu
Kepada Allah yang empunya

Patut bersyukur kepada Allah
Yang memberi segalanya

Malulah kepada Allah
Kerana milik Ia punya

Janganlah berbangga
Apa yang ada pada kita
Kalau Allah tidak beri
Kita tidak punya apa-apa

Janganlah mengungkit
Mengungkit jasa kita
Jasa kita di sisi-Nya
Yang sebenarnya Allah punya

Marilah kita bersyukur
Bukan berbangga

Bersyukur kepada Allah
Bukan mengungkit jasa

Gunakanlah nikmat Allah itu
Untuk khidmat kepada-Nya
Selepas itu lupakan saja
Agar tidak mengungkit-ungkitnya
Baca lagi...

Thursday, August 13, 2009

Al-Fatihah utk Allahyarham Ust Asri

Beliau adalah ikon penasyid sejak zaman Nada Murni.


KUALA LUMPUR: Ketua kumpulan nasyid Rabbani, Asri Ibrahim, 40, meninggal dunia di Hospital Pantai, di sini, kira-kira jam 11 pagi tadi kerana sakit jantung.

Allahyarham yang juga penyanyi utama kumpulan itu dilaporkan pengsan ketika mengendalikan program Syahadah musim kelima di Angkasapuri, sebelum dikejarkan ke hospital berkenaan.

"
Aku adalah pengejar syurga akhirat,bagiku dunia ini adalah tempat mempersiapkan segala sesuatu untuk meraih syurga akhirat;aku yakin bahawa syurga akhirat tidak akan pernah dapat aku raih kecuali aku boleh menikmati syurga dunia terlebih dahulu.Maka rumah dan keluargaku adalah syurga dunia paling indah buatku. Tempat kerja syurga dunia harianku. Tetangga, masyarakat,dan bangsa adalah syurga duniaku yang lebih luas.Ke manapun dan sampai bila-bila pun syurgaku selalu bersamaku..."-Asri Rabbani


Baca lagi...

Tuesday, August 11, 2009

Ubat H1N1- Insya allah....

11 Ogos 2009



Oleh: Shah Bundy



Terjemahan:

Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad S.A.W. yang dengan berkat

baginda, engkau menyembuhkan hati-hati, menjadi penawar dan menyihatkan tubuh badan juga

memberi kesembuhan penyakit serta mengurniakan cahaya penglihatan dan kurniakanlah juga rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda.

Wahai sahabat sekalian di waktu kita di serang penyakit yang berwabak pada ketika ini….

Marilah kita sama-sama amalkan selawat syifa’ diatas moga2 allah melindungi kita darinya.

Doa akan dimakbulkan kerana selawat, inilah yg menaikkan doa itu ke langit. Doa juga akan diterima dgn berkat berselawat.

Sebab itu selawat ada dlm doa.


http://idhamlim.blogspot.com/2009/08/ubat-h1n1-insya-allah.html
Baca lagi...